Bukan untukku

air mata ini kadang masih menetes untukmu

meski aku tau kau bukan untukku,

setidaknya sekarang

tapi sungguh, aku tidak akan menyerah mendapatkanmu

hingga habis waktuku

mengejarmu

meski kini aku hanya bisa menatapmu dalam diam

dari balik kaca yang semakin menghitam

akankah ?

 

Advertisements

tunjuk satu bintang

aku menatapnya lama

menunggu hingga awan hitam itu menyingkir

membiarkan sinarnya menembus retinaku

tapi hingga tubuh ini menggigil dibelai angin malam, ia, awan hitam itu tak jua menyingkir

Continue reading

Seperti inilah kita

puisi nya teman :

Aku ingin menikmati tentang kita
Merasakannya secara perlahan sebelum ditelan sejarah
Lalu menangisinya, mentertawainya, mencintainya, dan merindukannya
Karena kenyataan kita selalu lebih menarik daripada kau dan aku
Dan biarkan aku tidur selamanya, bila mencintaimu adalah sebuah mimpi

that’s what friends are for

teruntuk sahabat-sahabatku

maafkan aku jika sampai hari ini aku belum bisa menunaikan kewajibanku menjadi sahabatmu

belum sempurna memenuhi hak-hak mu atasku

begitu sering melupakanmu dengan jargon kesibukan

maafkan aku sobat

terima kasih sobat

untuk tidak menginggalku meski kau kutinggalkan

untuk tidak melepaskan genggaman tanganmu meski ku tak lagi menggenggammu

atas semua cinta, kasih, sayang, perhatian ataupun sms mu yang meski kadang hanya bertuliskan “apa kabar? ” “lagi ngapain?”

maafkan aku karena telah menyia2kan hadirmu

padahal sesungguhnya

hadirmu memberi warna indah dalam hidupku

bersamamu tak kukenal lagi kata duka nan lara

karena aku memilikimu, sahabatku

Continue reading

reflection

muka-2.jpg

aku mengaca diri

aku tau ada yang salah dengan ku

hatiku mengiyakan, akalku menyangkal

entah kapan dua kekuatan itu bertemu

bersatu dalam harmoni yang indah tanpa perlawanan

Continue reading

belum sejiwa

aku ada kau tiada

aku bahagia kau terluka

aku damba kau menyerah

aku kamu, belum sejiwa

SEBAIT SAJAK UNTUKMU

lagi buka-buka milis penyair, nemu sajak berikut :

Kepada Ukhti yang memiliki cahaya mata  yang indah

Aku ingin menulis sebait sajak untukmu, Ukhti
Agar terurai rindu yang terhimpit di sela karang kehidupan
Ketika perahuku berlayar di bening air matamu
Pada senja yang diam,
Pada waktu yang semakin menepi.

Di lentik bulu matamu
Tempat di mana perahu kecilku ditambatkan
Kulabuhkan luka, penderitaan dan cintaku.

Pada hurufhuruf yang terlahir dari rahim penaku
Sebait sajak kutuliskan di keningmu.
Kelak, jika tiba waktunya
Saat hatiku telah melebur bersama tubuhmu
Akan kubacakan sebait sajak itu, perlahan ditelingamu
Pada senja yang diam
Pada waktu yang semakin menepi.

Sang Ilalang
Ketika Patah!

%d bloggers like this: