Sindrom wanita karier

berikut ini adalah hasil dari pengamatan dan pengalamanku selama 3 tahun bekerja, bisa bener dan bisa salah, sekedar berbagi apa yang aku lihat dan rasa aja.

berikut hal-hal yang bisa digolongkan menjadi sindroma wanita karier :

1. telat nikah ^^

   kalau yang ini bukan karena pengamatanku, tapi krn pengalaman beberapa kali dikira  sengaja nunda nikah karena karier, ini juga yg dikeluhkan oleh beberapa teman yang sepantaran denganku or lebih tua yg juga belum nikah…we are “still” 25 or 26, so what ? tapi memang prasangka seperti itu sangat lekat dengan beberapa wanita karier, padahal banyak juga pria karier yang bln nikah ketika sudah kepala 4 ^^

2. cenderung Caesar kalau melahirkan anak

4 dari 4 orang teman kantor melahirkan anakny dengan cara caesar, padahal 3 dari 4 tersebut sangat ingin melahirkan secara normal, hanya karena posisi si buah hati tak jua benar, si kecil lebih suka melintang…mo tau kenapa ? mungkin alasannya karena calon ibu selalu duduk minimal 8 jam dengan posisi perut yang tidak bisa tegak, setegak ketika berdiri, jadi otomatis si kecil akan lebih suka melintang karena lebih nyaman untuknya

3. ga tahan dengan yang namanya Diskon dan Mall

karena mempunyai penghasilan sendiri, bebas secara finansial dari ortu maupun suaminya, maka wanita cenderung lebih boros menghabiskan uangnya sendiri, slogan menikmati jerih payah kadang menjadi alasan utama, tapi memang ga ada salahnya asal jangan berlebihan aja, sepelit2 apapun wanita, klo dia punya uang sendiri maka dia akan lebih royal belanja, apalagi klo kantornya dekat Mall kayak gw, ck ck ck, godaan tak tertahankan

4. Kurang bisa berkreasi di dapur

terbukti, beberapa temen yang bawa bekal ke kantor baik yang sudah nikah maupun yang belum, ketika aku tanya “masakanya sapa? “, biasanya jawabanny cuman 2, ibu atau pembantu… memang, kesempatan untuk nyoba2 resep baru hanya di wikend, itupun kalau ga ada kegiatan lain, kalau sibuk organisasi, nganter anak sekolah, ngurus baby maka bisa dipastikan wanita karier rada kurang bisa berkreasi mengolah menu makanan…tapi bukan berarti ga pinter masak lho ^^

5. menuntut dan kadang terlalu rasional

contoh ketika makan siang bareng di chicken story tadi, jumlah wastafel yang disediakan cuman 1,seorang teman mengambil kertas kritik saran, lalu menulis sebagai berikut :

” jumlah wastafel hendaknya ditambah, mengingat selalu adanya antrian ketika hendak mencuci tangan, hal ini membuang2 waktu pelanggan”

masih seputar wastafel, temenku yang lain mengeluh orang yang nyuci tangan sebelum dia :

“tuh cewek lelet banget se, cuci tangan aja lambreta, bisa dimarahin bos kalo lelet gitu” 

:D

kita memang selalu jeli melihat keganjilan, dan kalau perlu memanggil manajer restoran jika kita menilai pelayanannya tidak memuaskan….ck ck ck, or paling banter, ga akan kesana lagi

6. bagaimanapun juga wanita adalah wanita ^^

never miss a shot !! infotainment tetep jadi topik utama, karena tempatku internet gratis, maka kita bisa dengan mudahnya akses berita2 seputar seleb…contoh ni, aku baru tau kalo ariel peterpan mo cerai dari sms teman, wkt aku bilang ke temanku dia nimpalin :

” ga jadi cerai kalo istrinya ternyata hamil, updetan gw kan, itukan berita basi, kmn aja lu “

sekian, itu dulu, ntar kalo ada lagi disambung yee

mo pulang ajah, nungguin konfirmasi dari rekan lama be’eng mpe selese nulis ga kirim2 email, ya sud, senen aja lah

9 Responses

  1. 6 poin pengamatan yang jeli (padahal baru mengamati 3 tahun ya?) , Saya malah nggak pernah ngamati walau sudah lebih 15 th ! Wah,..berarti Anda calon pakar donk !?!

  2. bisa aja nih suroi. eh saya tambahin boleh ya. kalo disuruh suami resign ato ikut tawaran PHK kurang direspon juga termasuk sindroma mereka. padahal nih di perusahaan istri sedang ada tawaran PHK. karena kebetulan istri sudah bekerja lama, pesangonnya menggiurkan (minimal dapat satu rumah di batam). tapi tetap aja belum ngeh.
    sebagai suami yang baik (cieh) saya pun gak maksa, yang penting tidak melanggar koridor aja. sepertinya memang sudah dari sononya. sosok istri/ibu memang ingin meringankan beban suami/bapaknya. jangan GR ya.

  3. bukan cuman nt doang pak yg mengeluhkan itu
    temen2 ikhwan klo konsultasi seputar itu ke aku juga, sebagian dr mereka benerny pengen istriny itu dirumah aja, nanya ma aku gimana kiat2nya spy bersedia, hny krn aku juga kerja :D

    niatan istri bekerja itu selain utk aktualisasi diri ato kelebihan energi, juga utk membantu finansial klwarga, minimal muslim itu harus punya rumah dan pembantu lho –kata temenku–

    benerny bs disiasati, nyari kerjaan di tempat lain, disatu sisi menerima PHK juga, OK kan ? ga masalah klo kantor yg baru gajinya lebih kecil

  4. mbak suroi,
    teorinya sih gampang, coba tolong kita dikasih contoh prakteknya yang bener bagaimana..

    hasil pengamatan ini dilakukan pada orang lain atau mbak suroi sendiri? metode pengamatannya bagaimana? rapid survey method or forward method or leapfrog method or what?

    ehm, pointnya sih begini: sindrom wanita karier yg saya tahu, kebanyakan adalah terciptanya budaya materialistik, nah nanti menyebabkan semua sistem nilainya berubah menjadi materialistik dan kapitalistik (atau hegemonistik, halah malah ruwet bahasanya!), nyangkutnya ke banyak hal, mau nikah jadi telat karena belum dapat calon suami yang penghasilannya diatas dirinya (padahal rejeki itu sudah ada yang ngatur sendiri) alasan klasiknya sih belum dapet yang pas atau belum jodoh (emang jodoh datang dari langit? lewat ngimpi? just kidding!), melahirkan pingin pakai caesar karena (asumsinya) lebih mudah dan tidak sesakit cara normal (toh kalo soal duit juga tidak ada masalah, ini juga didukung para dokter, karena secara pendapatan mereka dapat lebih besar), boros (you know lah: sifat dasar wanita), tidak bisa memasak (karena pingin beli/jajan diluar), terlalu banyak menuntut (power syndrom, karena merasa dirinya punya penghasilan dan “kekuasaan”).

    Obatnya sih menurut saya tidak terlalu susah, kembali kepada Islam. Konsep menikah yang diusung diawal bagaimana? Standar adjusment nilainya bagaimana? Visi dan misi awalnya bagaimana? Wanita berkarier, saya sangat setuju sekali (istri saya juga wanita karier), yang penting adalah bagaimana kita melihat karier itu sendiri: hidup untuk karier atau karier untuk hidup.

    Makanya mbak, ta’doakan biar cepet nikah, biar tahu bagaimana rasanya menselaraskan pemikiran-pemikiran seperti ini, hehehehe…

  5. Aku setuju dengan 1, dan 5.
    Klo 2 & 3, kira-kira 50% rada bener…
    Klo 4, ga semua. Ada jg wanita karir yg tetep jago masak **tp bukan aq pastinya…ekekeke…

    Tp klo wanita karir cenderung dikatakan materialistis, aq pikir itu wajar. Wanita kan bisa mengurus dirinya sendiri, even single or not, jd klo dia merasa belm menemukan lelaki yg pas utk dirinya (baik fisik, materi, or kepribadian), sah2 saja menunda pernikahan. Toh sdh berkecukupan. Drpd asal milh, tau2 dapat laki2 yg mau enaknya saja? Sori kali yee….. :P ~~

  6. suroi, ongis nade nantangin tuh? sanggup gak menselaraskan teori yang sudah didiskusikan? saya sih berdo’a dan baik sangka aja semoga bisa deh.
    ongis nade, itulah permasalahannya. orang yang memiliki sindoroma itu banyak yang kurang paham dengan islam. pertanyaane, bagaimana mereka mau kembali ke konsep islam, orang mereka sendiri aja kurang paham tentang islam?.
    anda dikaruniai istri yang ‘matang’, namun diluar sana begitu banyak para wanita yang baru ‘1/2 matang’, atau malah belum matang. intinya adalah tugas kita masih sangat berat. bukan begitu ustadz.

  7. ga koq, mas Rahmat emang suka gitu :)
    wajar kalo dia berpendapat begitu, ya ga mas Rahmat ?

    aku menulis itu, bukan berarti aku menyetujui hal itu, meski dlm beberapa hal, aku termasuk ke dalamnya…

    tapi aku tetep berkhusnudzon ma temen2 kantor, selalu saja ada alasan dibalik sindrom tsb, dan latar belakang klwg yg berbeda…

    mengubah gaya hidup yang dah terlanjur itu tidak mudah, aku berusaha utk mewarnai tanpa harus terwarnai, meski kerap kali makan hati :D

    oiya, ini cuman pengamatan aja, ga pake metode apapun, krn emang hobiku mengamati, jadi diharapkan mampu membaca alasan tersirat dari setiap sikap

  8. @ Zee : setuju banget ma komen yang trakhir :D
    btw, aku juga pinter masak koq —> ngakunya si
    kqkqkq, tapi temen2 ga mau nyoba masakanku, takut mati keracunan katanya hahaha

  9. mas ibnusy, gak ada maksud nantangin siapa-siapa kok, mbak suroi juga udah tahu, bener kan mbak suroi? hihihihi..

    kalau takut salah milih, saya punya pendapat begini: pilihan-pilihan yang tidak benar itu hanya dilakukan oleh orang-orang gemar melakukan hal-hal yang tidak benar. Orang yang tahu kalau ingin sukses harus dengan kerja keras, maka tidak akan mudah tergiur dengan iming-iming kesuksesan yg instan. Demikian pula dengan pemilihan suami atau istri, orang yang terbiasa memilih pasangan hidup yang salah, jangan-jangan sistem nilai yang digunakannya untuk menilai “orang itu baik” lah yang salah. Orang yang gemar melakukan hal yang benar, sistem nilainya akan selalu menuntut pemenuhan atas itu, sehingga akan menseleksi siapa pasangan yang boleh “mendekat” kepadanya.

    Kalau mbak/mas Zee sering atau takut salah pilih, maka yang perlu dicek adalah jangan-jangan sistem nilai untuk menentukan mana yang benar atau salahnya yang salah, no offense lho.

    Coba diskusi sama mbak suroi, beliau sangat pengalaman dalam menentukan mana yg “benar” atau yg “salah”, bener kan mbak suroi? hehehehe..

Leave a Reply