Ayat-ayat Cinta

ayat ayat cinta

Setelah sekian puluh orang berpromosi dan merekomendasikan buku ini untuk dibaca, akhirnya tiba giliranku untuk mencicipi kedahsyatan novel besutan Habiburahman El Shirazi (Kang Abik) itu. Kalau bukan karena dapet buku gratis pas acara buka puasa bersama bareng Kang Abik di kantor kapan hari, mungkin sampai sekarang saya belum membacanya. Komentar singkat saya : Fachri tidak berhasil membuat ku jatuh cinta, hatiku masih menjadi milik Arai :D

Ayat-ayat cinta bukan lah novel pertama karangan Kang Abik yang saya baca, ada Pudarnya Pesona Cleopatra, Ketika Cinta Bertasbih dan Ketika Cinta Berbuah Surga. Saya bukan penggemar Kang Abik, tapi saya membutuhkan bacaan-bacaan ringan sebagai selingan bacaan-bacaan yang menguras otak, karya Kang Abik sangat bisa dijadikan alternatif.

 

Kembali ke Ayat-ayat cinta, dari segi setting, penokohan dan jalan cerita tidak jauh berbeda dari novel Ketika Cinta Bertasbih, sehingga saya tidak merasakan Ayat-ayat cinta sebagai karya yang fenomenal, mungkin akan berbeda komentar saya kalau saya membaca novel ini di awal terbitnya tahun 2005 lalu, sebelum anak-anak, cucu, keponakan, sepupu novel ini bermunculan :D

Mencoba memberikan penilaian yang obyektif dari karya Kang Abik ini, saya akan memaparkan beberapa kelebihan dan kekurangan, diantaranya :

KELEBIHAN :

  1. Kaya akan kosa kata, pemilihan kalimat yang sangat tepat, menguasai berbagai macam bahasa sehingga pembaca tidak akan dibuat jenuh dan mampu mengantarkan pembaca untuk masuk secara emosional ke dalam jalan ceritanya
  2. peduli akan detail
  3. syarat dengan ilmu dan dakwah islam, semoga pembaca pun tidak hanya menikmati jalan cerita tapi juga bertambah wawasan keislaman sehingga mengantarkan sampainya hidayah kepada para pembaca. Amin
  4. Murah meriah, cuman Rp 43.500 sebelum discount
  5. Mampu membawakan nuansa Mesir ke dalam alam pikiran pembaca.

KEKURANGAN :

  1. Perwatakan yang terlalu sempurna dan dominan.

Fachri dicitrakan terlalu sempurna, nyaris tanpa celah, bahkan Kang Abik pun meniru salah satu teladan tabiin ketika kamarnya bocor sementara pemilik kamar diatasnya adalah seorang Yahudi, membuat saya merasa minder ketika lebih jauh mengenalnya. Siapa yang ga minder dengan lelaki sholeh, hafidz, pekerja keras, sangat menjaga adab pergaulan, sederhana, baik hati, tidak sombong dan suka menabung, SEMPURNA, tapi karena terlalu sempurna sehingga jauh dari kalimat manusiawi.

Dominan, meskipun ada banyak karakter yang diperkenalkan, tokoh sentral nya adalah Fachri, bahkan hampir semua wanita di novel itu jatuh cinta dan menyatakan cinta padanya, sampai melakukan hal gila untuk mendapatkan cintanya, come on, please deh….bukankah masih banyak temen-temen se kontrakan nya yang juga layak untuk dicintai ? kenapa harus selalu Fachri ? Tanya kenapa :D

  1. cacat secara syariah, ada sebuah episode dimana Fachri menikahi Maria ketika dia tidak sadar dan belum beriman, dan dinyatakan syah sebagai istri…hmm, membuat saya bertanya-tanya apakah hal ini dibenarkan dalam syariah ? wallahu’alam
  2. Kualitas kertas yang kurang bagus, mungkin sepadan dengan harga bukunya yang cukup murah.

Dan begitulah penilaian saya tentang novel ini, bagi anda yang doyan dengan cerita-cerita negeri dongeng, saya merekomendasikan buku ini, tapi kalau anda berkepribadian mirip seperti saya, maka sebaiknya jangan, karena selama membaca, pikiran-pikiran anda akan berlompatan kesana kemari menyuarakan protes “ ah cuman ada di negeri dongeng :D

Dan saya tetap merekomendasikan tetralogi Laskar pelangi untuk dibaca :D

Leave a Reply