Namanya Reni

Masjid pondok indah tampak lengang waktu sholat maghrib semalam

hanya ada 1 shaf wanita yang tak lebih dari 15 orang

dan 2 shaf pria

sebelah kiriku seorang wanita yang sangat menarik 

kami bersalaman usai shalat, dan aku pun menawarkan penitiku padanya, yang aku tau bernama Reni setelah berkenalan, karena mukenahnya terbang ga karuan tertiup angin malam yang waktu itu cukup kencang

basa basi aku bertanya apakah dia sendirian, dan dia menjawab iya, lantas aku mengajaknya buka puasa bersama di bazar jajanan puasa masjid pondok indah yang telah berlangsung 15 hari, dia bersedia dan kemudian membuka mukenahnya

WAW

i was surprised at that time

penampilannya lebih mirip ke Mall daripada ke masjid

orangnya manis, dandanannya cantik, lengkap dengan blush on, eye shadow, maskara, eye liner, lipstic dll yang aku ga tau namanya, aku taksir usianya sekitar 35 tahunan, ga tau kalo lebih muda ya, soalnya di bandung ma jakarta itu penampilan menipu, baru 17 tahun dah kayak 25 tahun, aku yang dah 26 masih ditanya : Sekolah kelas berapa mba :D

melihat postur dan bentuk matanya yang indah, aku jadi teringat artis luna maya, sodaraan kali ya, mirip banget, dia memakai baju luar warna orange berjumbai-jumbai, tank top hitam dan memakai leggie hitam

Tas bermerk yang mahal, anting yang panjangnya sampai ke bahu dan gelang tangan yang besar-besar, bener-bener mirip selebritis :D

aku katakan dalam hati : “do not judge a book by its cover”

kami berdua berjalan beriringan, aku memesan nasi padang dan dia membeli bubur ayam, dan apapun makanannya minumnya teh botol sosro :D

kami duduk di luar tenda sambil menikmati suasana malam

lalu lalang mobik, hiruk pikuk suara orang

sebenarnya juga ga ada indah2nya, la orang seberang jalan berdiri megah kantorku :D

lain cerita klo seberang itu adalah pegunungan, danau etc

tiba-tiba dia mengeluarkan 1 batang rokok dari tasnya

tersenyum padaku –mungkin minta ijin utk merokok

aku pun membalas dengan senyuman

sambil menikmati rokoknya, dia bercerita kalau dia asli Bandung, dah seminggu di jakarta dan salat tarawih di masjid pondok indah, selama di jakarta dia menginap di simprug  — simprug adalah kawasan apartemen dan hotel elite di jak sel—

melihat sepinya pengunjung bazar malam itu, dia berkomentar :

+ sepi banget ya, orang-orang pada kemana ?

- mungkin pada buka puasa bersama

+ hmm, aku paling ga suka buka puasa bersama, pertama aku bisa telat sholat maghribnya, karena biasanya mushollanya tidak representatif, kedua aku pun terancam ga sholat tarawih karena ngobrol dulu ma temen-temen, oleh karena itu aku selalu menolak undangan buka puasa bersama apalagi mendekati 10 hari terakhir, aku berencana ikut program sepuluh hari terakhir disini, mulai nya jam 2 kan ?

JDIERRR, bagai petir di malam hari —pengennya nulis “bagai petir di siang bolong”, tapi waktu itu setting nya malam hari :D

memang benar, do not judge a book by its cover

aku sungguh tidak menyangka mendengar kata-kata itu darinya

selebihnya pembicaraan kita mengarah ke kebijakan pemerintah seputar harga angkutan umum menjelang mudik

menyenangkan, maghriban di pondok indah memang aku niatkan juga untuk mencari temen-temen baru, bertemu dengan orang baru dan belajar dari mereka

ada seorang ibu yang selalu tekun baca Qur’an ditemani cucunya, ada karyawati hoka-hoka bento yang selalu mengajakku minta takjil ke takmir, tapi aku males dan malu :D

dan masih banyak lagi temen-temen ngabuburitku di masjid pondok indah

selesai makan, dia minta ijin nelpon temen-temennya, dan aku pun minta ijin untuk balik ke masjid, dia akan menyusulku kemudian

sesampai di masjid, aku segera sikat gigi dan cuci muka

pas lagi enak-enaknya cuci muka, tiba-tiba aku teringat sesuatu

GAWAT, aku bln bayar teh botolnya, segera ku ambil wudhu, make krudung lagi dan menuju ke ibu penjual teh botol sambil berkata :

+ maaf bu, lupa bayar teh botolnya, berapa ya bu

sambil tersenyum ramah dia menjawab :

- 2,5 aja neng

One Response

  1. hmmmm memang banyak yang kontras sih…

Leave a Reply